Oleh: Henddra Citizen
Citizen-Journalists, Jakarta – Di era di mana setiap pemilik telepon pintar secara otomatis memiliki “stasiun pemancar” sendiri, ruang digital kita menjelma menjadi panggung raksasa tanpa kurator. Siapa saja kini bisa menjadi publikator—menyebarkan narasi, membentuk opini, hingga menghakimi peristiwa hanya dengan beberapa ketukan jemari. Secara teori, ini adalah puncak demokratisasi informasi. Namun dalam praktiknya, ruang digital kita sering kali terasa bising, mentah, dan jauh dari kata “dewasa”.
Menjadi publikator yang dewasa di era digital bukan sekadar urusan paham cara memakai aplikasi atau menguasai tata bahasa yang apik. Kedewasaan publikasi menuntut kejelian berpikir, pengendalian emosi, serta kesadaran penuh akan dampak sosial dari setiap kalimat yang dilepas ke publik. Sayangnya, standar kedewasaan ini menjadi barang langka dan sangat sulit dicapai ketika proses kreatifnya sudah sarat dengan kepentingan.
Ketika Kematangan Berpikir Tumbal Oleh Kepentingan
Publikator yang dewasa secara intelektual dan emosional selalu menempatkan verifikasi fakta, objektivitas, dan etika di atas segalanya. Sebelum menekan tombol publish, ia akan bertanya pada nuraninya: “Apakah informasi ini benar? Apakah ini adil untuk semua pihak? Dan apa gunanya tulisan ini bagi publik?”
Namun, ketika sebuah tulisan atau konten diproduksi berdasarkan pesanan—entah itu kepentingan politik partisan, syahwat mengejar clickbait demi keuntungan finansial, atau sekadar ego pribadi—proses bertengkar dengan nurani itu biasanya dilompati.
Kepentingan selalu bekerja dengan cara yang seragam: ia membutakan akal sehat dan mempersempit sudut pandang. Publikator yang tersandera kepentingan tidak lagi peduli apakah jawabannya adil atau jujur. Yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana cara memenangkan narasi, menjatuhkan lawan, atau memanen emosi netizen demi interaksi (engagement) yang tinggi. Di titik inilah, fungsi publikator terdegradasi dari penyebar pencerahan menjadi sekadar agen pemfabelan.
Menjual Emosi di Pasar Kecepatan
Sifat dasar ruang digital hari ini sangat menyukai konflik dan drama. Konten yang memprovokasi kemarahan, kebencian, dan rasa takut terbukti paling cepat menembus algoritma media sosial. Celakanya, para publikator yang sarat kepentingan sangat paham cara memanfaatkan celah ini.
Mereka sengaja mengemas narasi secara setengah-setengah, memotong konteks, atau menggunakan bahasa bombastis untuk memantik emosi massa. Ketika publikasi digital sudah didorong oleh motif-motif sempit semacam ini, kedewasaan ruang publik otomatis gugur. Informasi tidak lagi diolah menjadi pengetahuan yang memperkaya wawasan warga, melainkan dipersenjatai untuk membelah masyarakat ke dalam kubu-kubu yang saling curiga.
Bagaimana mungkin kita mengharapkan terciptanya iklim diskusi yang sehat dan beradab, jika para penyebar informasinya sendiri berkarya dengan “udang di balik batu”?
Menagih Kejujuran Publikator Digital
Ruang digital kita tidak kekurangan orang pintar atau tulisan yang bagus, tetapi kita sangat krisis kejujuran niat.
Menjadi publikator yang dewasa di tengah kepungan arus kepentingan memang membutuhkan keberanian moral yang ekstra. Itu berarti seorang penulis harus berani menolak untuk menjadi alat propaganda, berani menahan diri untuk tidak membagikan berita yang belum terverifikasi meski itu menguntungkan kelompoknya, dan berani mengakui kesalahan jika data yang disampaikannya ternyata keliru.
Jika kita ingin menyelamatkan ekosistem informasi kita dari pementasan drama yang melelahkan, maka independensi niat adalah syarat mutlak. Selama jemari para publikator masih digerakkan oleh titipan agenda, transaksi di bawah meja, dan ego kelompok, selama itu pula ruang digital kita akan tetap kerdil—dipenuhi suara-suara nyaring yang kekanak-kanakan, riuh oleh kepentingan, namun sepi dari kebenaran. (*)
Penulis: Adalah Ketua Komunitas Pewarta Jalanan yang aktif dalam Citizen Journalisme Communication Forum (FCCJ)

















Komentar