CITIZEN-JOURNALISTS, LINGGA — Derita warga Kampung Panggak, Desa Sungai Harapan, terkait krisis air bersih seolah tak pernah berujung. Fasilitas air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang seharusnya menjadi penopang utama kebutuhan dasar harian, justru menjadi sumber beban baru yang memicu kemarahan publik. Warga menyuarakan kekecewaan mendalam atas buruknya pelayanan distribusi air yang tersendat, di tengah indikasi kebocoran pipa yang dibiarkan begitu saja oleh para petugas di lapangan.
Persoalan ini bukan sekadar keluhan sepele, melainkan masalah krusial yang berdampak langsung pada kelangsungan hidup dan kondisi ekonomi harian masyarakat setempat.
Keran Kering, Petugas Diduga Tutup Mata
Di lapangan, pasokan air bersih ke rumah-rumah warga kerap mati total atau mengalir dengan debit yang sangat kecil dan tidak menentu. Di saat warga menjerit kekurangan air, indikasi kebocoran jaringan pipa utama justru tampak diabaikan oleh petugas teknis PDAM. Sikap apatis dan kesan “tutup mata” dari pengelola fasilitas ini memaksa warga harus meluangkan waktu ekstra setiap hari hanya untuk menunggu dan menampung tetesan air demi memasak, mandi, serta mencuci.
Hak Diabaikan, Kewajiban Dipaksa: Iuran Tetap Wajib Jalan!
Ketidakadilan yang paling menyulut emosi warga adalah skema pembayaran yang dinilai sangat berat sebelah. Meskipun distribusi air sering mati berhari-hari dan aliran air tak menentu, pihak pengelola tetap mewajibkan warga membayar tagihan atau iuran bulanan secara penuh dan rutin tanpa kompromi.
Ketidakseimbangan mendasar antara hak konsumen untuk mendapatkan suplai air bersih yang layak dan kewajiban membayar tagihan ini memicu kekecewaan hebat. Warga merasa diperas oleh sistem pelayanan publik yang hanya menuntut hak tagihan tanpa mau bertanggung jawab atas kualitas distribusi.
Tuntutan Tegas Warga Kampung Panggak
Guna menyelesaikan benang kusut yang merugikan masyarakat ini, warga Kampung Panggak mengajukan tuntutan keras kepada pengelola PDAM dan Pemerintah Daerah terkait:
Perbaikan Infrastruktur Total: Mendorong pengelola fasilitas dan pemda untuk segera menerjunkan tim teknis ke lokasi guna memperbaiki jaringan pipa yang bocor, mengecek kendala pompa, serta mengoptimalkan kembali debit air dari sumbernya.
Transparansi dan Penyesuaian Tagihan: Menuntut kebijakan tarif yang adil dan transparan. Pengelola harus melakukan penyesuaian billing atau pemotongan iuran bulanan sesuai dengan volume air yang benar-benar mengalir dan diterima oleh rumah warga. ( Rosmali )













Komentar