Ketika Tanah Surga, Digerogoti Tikus- tikus Negeri yang Rakus dan Serakah

Opini7 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Henddra Citizen

CITIZEN-JOURNALISTS, PANGKALPINANG – Ada rahasia umum yang paling memilukan di negeri ini: serakah itu tidak pernah punya titik jenuh. Negeri yang digadang-gadang kaya raya, dikaruniai kekayaan alam melimpah, dan ditopang oleh jutaan rakyat yang taat membayar pajak, terus-menerus digerogoti tikus dari dalam. Penyebab utamanya bukanlah bencana alam atau krisis global, melainkan kerakusan tanpa batas dari para tikus kekuasaan yang tak pernah merasa cukup.

Sangat tragis melihat bagaimana libido mengumpulkan harta haram melumpuhkan seluruh akal sehat dan nurani. Dari atas podium, mereka memamerkan narasi pengabdian demi kesejahteraan rakyat. Namun di belakang layar, jemari mereka sibuk membegal anggaran publik, memperjualbelikan kewenangan, dan menguras kas negara hingga tak tersisa.

Dahaga Harta yang Tak Pernah Padam

Pertanyaan paling mendasar yang kerap terlintas di benak rakyat kecil adalah: Mengapa mereka tidak pernah merasa cukup?

Gaji pokok berlipat-lipat, tunjangan bernilai fantastis, fasilitas rumah dan kendaraan dinas mewah, hingga dana pensiun dan pakaian dalam diri dan isterinya yang dijamin penuh oleh negara seolah tak mampu memuaskan dahaga mereka. Masalahnya bukan lagi terletak pada kecukupan finansial, melainkan penyakit jiwa berupa keserakahan struktural.

READ :  Makin Brutal! Negeri yang Sempurna Bermental Korup

Menjadikan Jabatan Sebagai Ladang Bisnis – Kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai amanah untuk melayani, melainkan modal investasi politik yang wajib menghasilkan keuntungan berlipat ganda melalui suap dan fee proyek.

Ketagihan Gaya Hidup Mewah – Dorongan pamer kekayaan dan status sosial di lingkaran elit memaksa mereka terus memburu uang haram untuk menopang gaya hidup yang semakin ugal-ugalan.

Perilaku Menumpuk Aset-  Tak puas dengan simpanan tunai, pencucian uang (TPPU) dijadikan alat untuk memborong tanah, deretan mobil mewah, hingga menyembunyikan aset di luar negeri.

Rakyat Kecil yang Menanggung Akibatnya

Setiap rupiah uang negara yang ditelan oleh tikus – tikus korup adalah tetes air mata dan penderitaan bagi masyarakat luas. Ketika anggaran kesehatan dipotong, fasilitas rumah sakit daerah memprihatinkan. Ketika dana pendidikan disunat, bangunan sekolah di pelosok ambruk. Dan ketika proyek infrastruktur dasar seperti jaringan air bersih dikorup, rakyat kecil dipaksa membeli air bersih mahal di tengah impitan ekonomi.

Pajak dan keringat rakyat jelata diperas untuk menghidupi mesin pemerintahan, tetapi hasilnya justru dikunyah sampai lumat oleh para penyamun berdasi yang hidup tanpa rasa malu.

READ :  Demokrasi dalam Bayang-Bayang Buzzer dan Mafia Peradilan

Hukuman Sosial dan Pemiskinan Total

Selama ini, sanksi bagi para koruptor terasa begitu ramah. Rompi oranye dan senyum merekah saat melambaikan tangan ke kamera media membuktikan bahwa hukuman penjara biasa tidak pernah cukup memberi efek jera.

Jika kita ingin membendung amukan tikus-tikus yang tak pernah merasa kenyang ini, penegakan hukum harus bergerak ke titik paling ekstrem:

Pemiskinan Total Tanpa Ampun: Sita seluruh harta benda hasil TPPU hingga ke akar-akarnya, termasuk aset yang diatasnamakan kerabat atau kroni.

Pencabutan Hak Politik Seumur Hidup: Tutup rapat pintu kekuasaan agar mantan pembegal uang rakyat tidak bisa lagi menyentuh jabatan publik.

Eksekusi Hukum Tanpa Kompromi: Hapuskan fasilitas mewah di balik sel dan tidak ada lagi ruang untuk sandiwara “pura-pura sakit” demi menghindar dari proses peradilan.

Miskin Ulah Para Elit yang Amoralitas

Negeri ini tidak akan pernah miskin karena kekurangan sumber daya, tetapi akan terus dimiskinkan oleh manusia-manusia yang rakus harta. Sampai kapan kita membiarkan kas negara dijadikan bancakan oleh para elit yang kehilangan moralitas?

READ :  Wilson Lalengke: Take Down Berita adalah Kejahatan Jurnalistik

Sudah saatnya masyarakat dan penegak hukum yang bersih merapatkan barisan. Jangan beri panggung, jangan beri ampun. Saatnya memburu dan memiskinkan setiap tikus negeri yang berani merampas masa depan rakyat! (CJ)

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@rcitizen-journallsts.com. atau kontak redaksi 0852 3897 3861 Terima kasih.

Komentar