Oleh: Henddra Widjaja
CITIZEN-JOURNALISTS – Negeri ini sejatinya adalah sepotong surga yang jatuh ke bumi, sebuah wilayah yang sempurna dengan hamparan tanah subur dan kekayaan alam yang tiada habisnya. Namun, kesempurnaan geografis itu kini menjelma menjadi kutukan akibat kerakusan akut para pengelolanya. Ketika moralitas runtuh hingga ke titik nadir, kita dipaksa menyaksikan kenyataan yang makin brutal: hampir seluruh elemen yang dipercaya memegang kendali kelembagaan negara secara sistemik mengidap mental korup.
Dari ujung tombak kebijakan hingga benteng pertahanan, penyakit korupsi telah merusak sel-sel waras bangsa ini.
Gurita Korupsi: Ketika Semua Lini Menjadi Sarang Perampok
Tidak ada lagi institusi yang benar-benar bersih dan layak menyandang status sebagai pelindung rakyat. Kepercayaan publik ambruk total karena menyaksikan parade korupsi yang dipertontonkan oleh berbagai elemen pemegang kekuasaan:
-Penguasa dan Kepala Daerah Korup: Kursi kekuasaan dari tingkat pusat hingga daerah bukan lagi alat untuk menyejahterakan rakyat, melainkan tiket emas untuk mengembalikan modal politik dan menumpuk harta pribadi melalui suap, gratifikasi, serta kongkalikong proyek pengadaan.
-Parlemen yang Busuk (DPR & DPD): Lembaga legislatif yang seharusnya menyuarakan jeritan rakyat justru sibuk memperdagangkan undang-undang dan menjadi stempel bagi kepentingan oligarki.
-Aparat Berseragam (Kejaksaan, Polri & TNI): Benteng hukum dan pertahanan ikut keropos. Ketika oknum penegak hukum berseragam cokelat dan loreng ikut terseret dalam pusaran megakorupsi seperti skandal korupsi komoditas strategis hingga anggaran program pemenuhan gizi maka keadilan di negeri ini resmi tamat.
-ASN Bermental Broker: Birokrasi yang lambat dan korup diisi oleh oknum Aparatur Sipil Negara yang memandang pelayanan publik sebagai ladang pungutan liar.
Pajak Rakyat Dihabisi secara Ugal-ugalan, Kekayaan Alam Dirampok Habis
Ironi terbesar dari negeri ini terletak pada nasib rakyat jelatanya. Sekitar 82% dari total pendapatan negara yang bersumber dari keringat pajak rakyat habis dialokasikan hanya untuk menggaji, memfasilitasi, dan menghidupi para pengelola negara yang sebagian dari mereka bermental tikus yang tak pernah merasa kenyang makan di dalam lumbung. Uang yang diperas dari saku buruh, petani, dan pedagang kecil itu justru dihabiskan secara ugal-ugalan untuk gaya hidup mewah, perjalanan dinas fiktif, serta pembangunan proyek-proyek mercusuar yang minim urgensi.
Sementara itu, kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah mulai dari timah, batubara, nikel, hingga emas yang diamanatkan undang-undang untuk kemakmuran bersama, justru dirampok secara terstruktur. Para mafia tambang berkemeja rapi berkolaborasi dengan oknum APH untuk menguras isi bumi demi memperkaya lingkaran mereka sendiri, menyisakan kerusakan lingkungan dan kemiskinan struktural bagi masyarakat adat setempat.
Kriminalisasi: Senjata Pamungkas Bungkam Suara Lantang
Lantas, apa yang terjadi ketika rakyat mulai berteriak dan menolak menjadi korban? Para penguasa korup ini memiliki senjata yang sangat mematikan: kriminalisasi.
Aparat penegak hukum yang telah tergadai idealismenya tidak lagi memburu para koruptor kakap, melainkan dialihfungsikan menjadi tameng pelindung bagi para perampok negara. Mereka mengintai, mengintimidasi, dan menjebloskan para aktivis, jurnalis investigasi, serta warga kritis ke dalam penjara dengan pasal-pasal karet. Suara-suara lantang yang menuntut keadilan dianggap sebagai ancaman dan penghalang utama bagi kelancaran sepak terjang mereka dalam mengeruk harta kekayaan negara.
Majikan Harus Tetap Bersuara, Meski Babu Terus Menjarah !
Negeri ini tidak sedang kekurangan sumber daya, melainkan sedang surplus manusia-manusia tidak tahu malu yang hobi memakan uang haram. Jika seluruh elemen kelembagaan negara sudah terkontaminasi oleh mentalitas korup, maka perubahan tidak akan pernah datang dari atas podium kekuasaan.
Sebagai majikan Rakyat harus tetap menyuarakan kebenaran dan menolak tunduk kepada Babu yang terus melakukan penjarahan dengan membangun skema intimidasi ataupun taktik kriminalisasi. Kita tidak boleh membiarkan tanah air ini hancur dan bangkrut di tangan para pembual berseragam dan pejabat berdasi yang bertingkah bak parasit di tubuh ibu pertiwi! ( HENDSCITIZEN )

















Komentar