Penulis : Andrianto
CJO, PALEMBANG – Di tengah riuk-pikuk kehidupan perkotaan dan perdesaan Nusantara, suara anggukan khas burung tekukur (Spilopelia chinensis) kerap menjadi penyejuk suasana. Burung yang termasuk dalam suku Columbidae (merpati-merpatian) ini memiliki tempat istimewa dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, baik sebagai fauna liar penyemarak alam maupun burung peliharaan kesayangan.
Ciri Fisik dan Suara yang Khas
Burung tekukur sangat mudah diandalkan dan dikenali dari penampakan fisiknya yang anggun serta pola warna bulunya yang khas:
-
Pola Leher Berbintik: Ciri paling menonjol dari burung tekukur adalah adanya corak bercak hitam berbintik putih pada bagian belakang lehernya, menyerupai pola kalung yang indah.
-
Warna Bulu Cokelat Merah Muda: Tubuh bagian atas umumnya berwarna cokelat keabu-abuan, sementara bagian dada hingga perut didominasi warna cokelat muda bersemburat merah muda lembut.
-
Alunan Suara (Dekutan): Suara dekutan tekukur memiliki irama bertahap—sering kali berbunyi “ku-ku-kur” atau “te-ku-kur”—yang terdengar berat, merdu, dan menenangkan.
Habitat dan Perilaku di Alam Liar
Di alam bebas, burung tekukur adalah penghuni setia kawasan terbuka, tepi hutan, area pertanian, hingga taman-taman di sekitar permukiman warga.
-
Pencari Makan di Permukaan Tanah: Burung ini menghabiskan banyak waktunya di atas tanah untuk mencari biji-bijian, rumput, serta buah-buahan kecil yang jatuh.
-
Sifat Monogami: Tekukur dikenal sebagai burung yang setia pada pasangannya. Mereka umumnya hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil dan membangun sarang sederhana dari ranting kering di atas pepohonan.
Nilai Budaya dan Kaitannya dengan Ketenangan Jiwa
Bagi sebagian besar masyarakat tradisional, khususnya di Pulau Jawa dan Sumatra, memelihara burung tekukur bukan sekadar hobi. Suara anggukan burung tekukur dipercayai dapat membawa kedamaian, meredakan stres, serta menciptakan nuansa pedesaan yang asri di pekarangan rumah.
Keberadaan burung tekukur di alam bebas juga menjadi indikator penting bagi keseimbangan ekosistem sekitar, terutama sebagai penyebar biji-bijian alami dan pemakan gulma. Menjaga kelestarian habitat tempat burung ini berkembang biak adalah tanggung jawab bersama agar alunan merdu sang tekukur terus terdengar melintasi zaman.(*)
Redaksi Flora & Fauna Nusantara
