PERS itu Menghamba kepada PUBLIK, Bukan Bersekutu dengan PENGUASA

Artikel, Opini4 Dilihat
banner 468x60

Artikel

Oleh : Henddra Citizen

Citizen-Journalists | Ketika mesin kekuasaan bekerja, godaan terbesar bagi institusi media adalah berputar di lingkaran intrik elite, menjadi pelantang suara pejabat, atau sekadar menjadi stempel pembenaran atas kebijakan penguasa. Namun sejarah dan etika jurnalisme telah mengunci satu garis demarkasi yang tidak boleh ditawar: pers tidak pernah dilahirkan untuk melayani istana. Pers lahir untuk menghamba kepada publik.

Publik adalah Pemilik Saham Utama Informasi

Dalam ekosistem demokrasi, hak atas informasi yang jujur adalah milik warga negara, bukan milik pemegang otoritas. Jurnalisme bekerja atas mandat publik. Ketika jurnalis turun ke lapangan, mereka bertindak sebagai mata, telinga, dan suara dari masyarakat yang tidak memiliki akses ke ruang-ruang pengambil kebijakan.

Menghamba kepada publik berarti menempatkan kepentingan orang banyak—mulai dari petani yang lahannya tergusur, warga yang ruang hidupnya tercemar, hingga masyarakat yang hak ekonominya dikebiri—di atas kenyamanan para pemangku jabatan. Pers yang sehat tidak diukur dari seberapa sering ia diundang ke acara seremonial kekuasaan, melainkan dari seberapa konsisten ia menyuarakan jeritan mereka yang tak terdengar.

READ :  Jurnalisme: Dituntut Kerendahan Hati untuk Mendengar,  Bukan Keberanian untuk Menekan Narsum

Fungsi Kontrol: Membawa Senter ke Ruang Gelap Otoritas

Hubungan antara pers dan penguasa secara alamiah harus bersifat menjaga jarak (detachment). Pers yang terlalu dekat dengan kekuasaan akan kehilangan daya kritisnya, bertransformasi dari anjing penjaga (watchdog) menjadi anjing piaraan yang manut.

Tugas utama jurnalis adalah melakukan investigasi, mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman, dan membawa “senter” ke sudut-sudut gelap birokrasi di mana potensi penyalahgunaan anggaran atau wewenang kerap disembunyikan. Saat pers mulai memilih untuk menyenangkan penguasa demi stabilitas atau logistik, saat itulah pers sedang mengkhianati pembaca dan pemirsanya.

Kredibilitas adalah Satu-satunya Mata Uang Pers

Di era banjir informasi dan maraknya media sosial saat ini, publik semakin cerdas membedakan mana media yang bekerja sebagai humas terselubung dan mana pers yang konsisten menjaga integritas. Kredibilitas tidak bisa dibeli dengan subsidi atau kontrak pariwara.

READ :  Indonesia di Persimpangan Davos: Menjadi Pemain Utama atau Sekadar Pion Catur Perdamaian?

Ketika pers memilih setia menghamba kepada publik dengan menyajikan kebenaran yang berbasis fakta, publik akan memasang badannya untuk melindungi pers saat ia dikriminalisasi atau diintimidasi. Loyalitas kepada publik adalah perisai terbaik jurnalis di lapangan.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari artikel ini adalah : Penguasa dan rezim bisa silih berganti datang dan pergi dalam hitungan tahun. Namun, publik akan tetap ada. Memilih menghamba kepada penguasa adalah investasi jangka pendek yang menggadaikan harga diri profesi. Sebaliknya, memilih berdiri bersama publik, meskipun jalannya terjal dan penuh risiko bahkan konsekwensi hukum, adalah satu-satunya cara memastikan bahwa pers tetap tegak berdiri sebagai pilar moral bangsa. Karena pada akhirnya, pers yang impoten dan  mandul di hadapan penguasa adalah awal dari kematian demokrasi itu sendiri.( Henddra Citizen )

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@rcitizen-journallsts.com. atau kontak redaksi 0852 3897 3861 Terima kasih.

Komentar