Retorika Antartika vs Realita Domestik: Ketika Slogan “Keadilan Demi Rakyat” Tumbang di Tangan Oligarki

Artikel, Opini12 Dilihat
banner 468x60

Oleh : Henddra Widjaja, S.Ak

CJO, JAKARTA — Di atas panggung-panggung megah dan mimbar resmi, pidato-pidato berapi-api yang membakar semangat kerap menggelegar. Narasi tulus demi rakyat, janji pengentasan kemiskinan, hingga jargon keadilan sosial diucapkan dengan raut muka paling meyakinkan.

Namun ketika tirai panggung ditutup, kenyataan pahit menyapa masyarakat: janji-janji manis tersebut tak lebih dari modal retorika untuk melanggengkan kepentingan oligarki kekuasaan.

Retorika Antartika di Tengah Maraknya Korupsi Domestik

Rakyat tentu tidak lupa akan retorika bombastis yang pernah mengudara—janji mengejar koruptor sampai ke ujung dunia, bahkan hingga ke Antartika sekalipun. Ingatan publik masih merekam betapa manisnya janji pemberantasan kejahatan rasuah tersebut.

Sayangnya, janji tinggal janji. Realita hari ini justru memperlihatkan pemandangan yang bertolak belakang. Di saat narasi pengejaran koruptor digelorakan ke luar negeri, para penjarah uang negara di lingkungan sekitar justru kian merajalela, melenggang bebas, dan menikmati hasil rampokannya tanpa rasa takut akan jerat hukum yang tegas.

READ :  Terkesan Adanya Pembiaran, Publik Minta Kapolres Bangka Bertanggung-jawab atas Kerusakan Lingkungan di Das Jalan Laut

Kemiskinan Dipelihara, Lapangan Kerja Kian Terjepit

Kondisi sosiologis masyarakat hari ini mencerminkan jurang pemisah yang kian lebar antara janji pejabat dan realita di lapangan:

Stagnasi Pengentasan Kemiskinan: Alih-alih dientaskan secara struktural melalui kemandirian ekonomi, angka kemiskinan seolah dipelihara sebagai komoditas politik berkala.

Krisis Lapangan Kerja: Generasi muda dan angkatan kerja kesulitan mendapatkan pekerjaan layak di tengah lesunya perekonomian rakyat bawah, sementara karpet merah justru dibentangkan lebar-lebar bagi kepentingan modal besar.

READ :  Nelayan Air Kantung Menjerit : Antara Keputusasaan dan Ancaman Kriminal

Kerinduan akan Pemimpin yang Membumi

Pertanyaan mendasar yang kini mengendap di sanubari rakyat adalah: kapan Republik ini memiliki pimpinan yang benar-benar berdiri tulus untuk menyejahterakan rakyatnya?

Rakyat tidak membutuhkan penguasa yang pandai merangkai kata atau pandai beraktingiba di depan kamera. Yang dibutuhkan hari ini adalah pemimpin yang berani memutus rantai oligarki, menindak tegas koruptor di sekelilingnya tanpa pandang bulu, serta mampu membuka akses keadilan ekonomi yang nyata bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

Penulis : Adalah Ketua Komunitas Pewarta Rakyat Indonesia ( KPRI ) dan Wartawan Jalanan

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@rcitizen-journallsts.com. atau kontak redaksi 0852 3897 3861 Terima kasih.
READ :  Kepada Siapa Lagi Kita Berharap Soal Keadilan, Ketika Semua Sibuk dengan Dapur, Kriminalisasi dan Dongeng Antartika

Komentar