Air Kecing vs Water Cannon, Beda Semprot Beda Hasil

Opini17 Dilihat
banner 468x60

Opini Oleh : Hendscie

Ketika Negeri Jauh dari Kata Adil

CJ Online, Palembang – Sebuah gambar terkadang mampu bicara lebih keras daripada seribu pidato politik. Belakangan ini, sebuah meme satir beredar di jagat maya, menampilkan kontras yang menggelitik sekaligus menyayat hati. Di satu sisi, tampak seorang petugas dengan peralatan seadanya mencoba menjinakkan amukan api yang melahap hektaran hutan. Di sisi lain, sebuah truk water cannon raksasa dengan gagah menyemburkan jet air bertekanan tinggi demi memecah barisan massa yang tengah berdemonstrasi.

Meme ini bukan sekadar lelucon digital pengisi lini masa. Ini adalah sebuah cermin buram yang menangkap realitas sosiopolitik kita hari ini: sebuah ironi tentang skala prioritas, dan tentang bagaimana sebuah negeri terasa kian jauh dari kata adil.

READ :  Mengais Bintang Penghargaan dan Tanda Jasa Negara

Air Kencing Baru Bangun Tidur

Secara kasat mata, kontras tersebut menyajikan pertanyaan mendasar bagi logika publik. Mengapa ketika berhadapan dengan bencana lingkungan yang mengancam paru-paru bangsa, sarana dan prasarana kita seolah selalu terkendala oleh kata “keterbatasan”? Petugas di lapangan sering kali harus bertaruh nyawa dengan kepulan asap, bermodalkan selang kecil atau bahkan ranting pohon demi memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif.

Air Merian Kendaraan Taktis

Namun, pemandangan berbalik 180 derajat ketika instrumen kekuasaan merasa terusik oleh kritik di jalanan. Anggaran seolah tanpa batas ketika dialokasikan untuk membeli kendaraan taktis mutakhir, gas air mata, hingga armada pencakar massa berteknologi tinggi. Logika ini memicu persepsi publik bahwa negara jauh lebih responsif, totalitas, dan taktis dalam meredam suara rakyatnya sendiri ketimbang menyelesaikan krisis ekologis yang merugikan jutaan nyawa.

READ :  Ujian Integritas Dibalik Prestasi Besar Satgas PKH

Ketimpangan yang Menyolok

Ketimpangan respons ini memicu gugatan moral yang lebih dalam mengenai esensi keadilan. Adil tidak berarti membagi sama rata, melainkan menempatkan sesuatu pada porsi dan urgensi yang tepat. Ketika ancaman nyata seperti kerusakan lingkungan dan kabut asap tahunan diselesaikan dengan langkah-langkah yang minimalis, sementara ruang aspirasi warga dihadapi dengan kekuatan yang maksimalis, di situlah rasa keadilan publik cedera.

Beda Semprot Beda Hasil

Meme “Beda Semprot, Beda Hasil” pada akhirnya adalah sebuah alarm peringatan. Ia mengingatkan kita bahwa tugas utama dari seluruh instrumen keamanan dan fasilitas negara adalah untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah termasuk melindungi alamnya dari kehancuran bukan sekadar menjadi benteng pelindung bagi kenyamanan kekuasaan dari riuhnya kritik. Selama skala prioritas ini belum berpihak pada kemaslahatan rakyat banyak dan kelestarian ruang hidup mereka, maka kalimat “keadilan sosial bagi seluruh rakyat” akan tetap menjadi baris teks yang menggantung di awang-awang.(*)

READ :  Ketika Warga Negara tak Berkedudukan Setara di Mata Penegak Hukum : Herman Fu vs Atin Rebook

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@rcitizen-journallsts.com. atau kontak redaksi 0852 3897 3861 Terima kasih.

Komentar