Opini Oleh : Hendscie
Ketika Negeri Jauh dari Kata Adil
CJ Online, Palembang – Sebuah gambar terkadang mampu bicara lebih keras daripada seribu pidato politik. Belakangan ini, sebuah meme satir beredar di jagat maya, menampilkan kontras yang menggelitik sekaligus menyayat hati. Di satu sisi, tampak seorang petugas dengan peralatan seadanya mencoba menjinakkan amukan api yang melahap hektaran hutan. Di sisi lain, sebuah truk water cannon raksasa dengan gagah menyemburkan jet air bertekanan tinggi demi memecah barisan massa yang tengah berdemonstrasi.
Meme ini bukan sekadar lelucon digital pengisi lini masa. Ini adalah sebuah cermin buram yang menangkap realitas sosiopolitik kita hari ini: sebuah ironi tentang skala prioritas, dan tentang bagaimana sebuah negeri terasa kian jauh dari kata adil.
Air Kencing Baru Bangun Tidur
Secara kasat mata, kontras tersebut menyajikan pertanyaan mendasar bagi logika publik. Mengapa ketika berhadapan dengan bencana lingkungan yang mengancam paru-paru bangsa, sarana dan prasarana kita seolah selalu terkendala oleh kata “keterbatasan”? Petugas di lapangan sering kali harus bertaruh nyawa dengan kepulan asap, bermodalkan selang kecil atau bahkan ranting pohon demi memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif.
Air Merian Kendaraan Taktis
Namun, pemandangan berbalik 180 derajat ketika instrumen kekuasaan merasa terusik oleh kritik di jalanan. Anggaran seolah tanpa batas ketika dialokasikan untuk membeli kendaraan taktis mutakhir, gas air mata, hingga armada pencakar massa berteknologi tinggi. Logika ini memicu persepsi publik bahwa negara jauh lebih responsif, totalitas, dan taktis dalam meredam suara rakyatnya sendiri ketimbang menyelesaikan krisis ekologis yang merugikan jutaan nyawa.
Ketimpangan yang Menyolok
Ketimpangan respons ini memicu gugatan moral yang lebih dalam mengenai esensi keadilan. Adil tidak berarti membagi sama rata, melainkan menempatkan sesuatu pada porsi dan urgensi yang tepat. Ketika ancaman nyata seperti kerusakan lingkungan dan kabut asap tahunan diselesaikan dengan langkah-langkah yang minimalis, sementara ruang aspirasi warga dihadapi dengan kekuatan yang maksimalis, di situlah rasa keadilan publik cedera.
Beda Semprot Beda Hasil
Meme “Beda Semprot, Beda Hasil” pada akhirnya adalah sebuah alarm peringatan. Ia mengingatkan kita bahwa tugas utama dari seluruh instrumen keamanan dan fasilitas negara adalah untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah termasuk melindungi alamnya dari kehancuran bukan sekadar menjadi benteng pelindung bagi kenyamanan kekuasaan dari riuhnya kritik. Selama skala prioritas ini belum berpihak pada kemaslahatan rakyat banyak dan kelestarian ruang hidup mereka, maka kalimat “keadilan sosial bagi seluruh rakyat” akan tetap menjadi baris teks yang menggantung di awang-awang.(*)



















Komentar