Ketika Program Lumbung Tikus  Sengaja Dicipta

Opini4 Dilihat
banner 468x60

Opini

Oleh : Henddra Citizen

CITIZENESIA, JAKARTA – Program yang lahir dengan niat mulia bisa berubah jadi ladang bancakan. Kasus penangkapan Kepala BGN dan terbongkarnya jaringan mafia proyek SPPD MBG jadi bukti paling telanjang: kita sedang menyaksikan lahirnya “lumbung korupsi baru” yang sengaja dicipta.

Dari Dapur ke Bancakan Proyek

MBG – Makan Bergizi Gratis – awalnya digadang sebagai solusi stunting dan gizi buruk anak Indonesia. Anggarannya besar, sasarannya nasional, alurnya panjang: dari dapur, logistik, sampai distribusi ke sekolah. Justru di rantai panjang itulah celah lahir.

Ketika Kepala BGN ditangkap, publik baru sadar: yang bermain bukan “oknum kecil”. Ini jaringan. Ada istilah “mafia proyek SPPD MBG” – Surat Perintah Perjalanan Dinas yang jadi alat legal buat ngalirin duit. SPPD yang mestinya buat perjalanan dinas, disulap jadi mesin cetak keuntungan. Proyek dapur fiktif, vendor titipan, harga bahan baku digelembungkan. Anak dapat nasinya, tapi kualitas dan anggarannya “dipangkas” di tengah jalan.

READ :  Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

Sengaja Dicipta, Bukan Kebetulan

 Korupsi model begini tidak lahir dalam semalam. Dia “dicipta” lewat 3 cara:

Pertama sistem yang rumit. Rantai MBG terlalu panjang dan multi-lembaga. Semakin banyak pintu, semakin banyak pungli. Audit jadi sulit karena datanya tercerai-berai.

Kedua, urgensi jadi tameng. Program MBG dikebut karena target politik. “Yang penting jalan dulu”. Akibatnya pengawasan, tender terbuka, dan verifikasi vendor dikorbankan. Buru-buru = banyak lubang.

Ketiga, ketergantungan anggaran. Anggaran MBG triliunan. Ini magnet kuat. Begitu uang sebesar itu berputar tanpa kontrol ketat, mafia akan datang sendiri. Mereka baca celah lebih cepat daripada birokrasi berbenah.

Kerugiannya Lebih dari Uang

Yang dirampok bukan cuma APBN. Yang dirampok adalah gizi anak, masa depan generasi, dan kepercayaan publik. Satu piring MBG yang dipotong anggarannya = satu anak yang stunting-nya tidak selesai. Koruptor MBG itu lebih kejam dari koruptor biasa, karena korbannya anak yang bahkan belum bisa protes.

READ :  Ketika Kolektor Timah Dijadikan Tumbal Hukum : Kebijakan 'Peras Batu' Satgas Tri Cakti: Paksa Kenaikan Kuota Setoran Timah, Oh Nasiib!

Penangkapan Kepala BGN harus jadi titik balik, bukan sekadar tontonan. Kalau cuma 1 orang yang dipenjara tapi sistem SPPD, verifikasi vendor, dan pengawasan dapur tidak dibongkar total, maka “lumbung” ini akan diisi orang baru setelah yang lama tumbang.

Bakar Lumbungnya, Jangan Cuma Tangkap Tikusnya

MBG harus diselamatkan dari para mafia. Caranya: transparansi anggaran real-time, audit independen, dan libatkan orang tua + sekolah buat awasi langsung isi piring anaknya. Jangan biarkan program baik ini mati karena digerogoti dari dalam. ( Henddra Citizen )

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@rcitizen-journallsts.com. atau kontak redaksi 0852 3897 3861 Terima kasih.
READ :  Memisahkan Tradisi dan Eksploitasi: Judi Rumahan Tradisi Komunitas Tionghoa, Togel Bukan

Komentar