Ketika ” Study Tour ” Jadi Hobby Baru Istana

banner 468x60

 Rubrik BRI ; Bualan Republik Ilusi

Opini, Penulis : Henddra Citizen

Citizenesia, Gedung Istana belakangan ini tampaknya lebih sering kosong. Sang penghuni lebih asyik membelah awan, melanglang buana dari satu ibu kota negara ke ibu kota lainnya. Salah satu destinasi favorit yang paling bikin dahi berkerut adalah Prancis. Bayangkan, dalam waktu yang relatif singkat, tercatat sudah tiga kali kunjungan kerja dinas dilakukan ke negeri menara Eiffel tersebut.

Di tingkat tapak, rakyat sedang dipaksa menahan napas menghadapi impitan ekonomi, melemahnya Rupiah, dan ancaman inflasi yang nyata. Namun di tingkat atas, agenda diplomasi luar negeri justru terlihat seperti jadwal study tour akhir tahun anak sekolah: padat, mahal, dan minimalis dalam hal transparansi hasil.

Prancis Jilid Tiga: Diplomasi Nyata atau Sekadar Nostalgia?

Bualan terbesar yang coba dipertahankan oleh humas Istana adalah narasi bahwa “setiap kunjungan luar negeri membawa komitmen investasi miliaran Dolar.” Namun, ketika publik dan media mulai bertanya apa hasil konkret dari tiga kali kunjungan ke Prancis tersebut, jawaban yang keluar selalu normatif, abstrak, dan dibungkus dengan kalimat “masih dalam proses penjajakan.”

READ :  Ketika Dua Tokoh Penjaga Fungsi Rubah Ruang Kerja Birokrasi Menjadi Panggung Dialektika

Ketidaktransparanan ini akhirnya memicu bola salju kritik di Senayan. Salah satu kritik paling menohok datang dari PDI Perjuangan (PDIP). Mereka mulai mempertanyakan urgensi dan efektivitas anggaran negara yang dihamburkan untuk perjalanan tersebut. Ketika partai sebesar PDIP sudah mulai gerah dan melempar kritik terbuka, itu adalah sinyal kuat bahwa ada yang tidak beres dengan manajemen prioritas di lingkaran Istana.

Secara logika warung kopi, tindakan Istana ini ibarat seorang kepala desa yang hobi pergi studi banding ke kota metropolitan sampai tiga kali setahun menggunakan dana desa, sementara jalanan di desanya sendiri masih rusak parah dan berlumpur. Ketika ditanya warga apa hasil studi bandingnya, sang kepala desa hanya tersenyum semringah sambil memamerkan foto di depan gedung-gedung mewah.

Menabrak Asas Transparansi Fiskal

Sebagai bagian dari jurnalisme warga, Republik Bualan harus tegas menyuarakan: setiap Rupiah yang keluar dari kantong APBN untuk membiayai avtur pesawat kepresidenan dan akomodasi delegasi mewah di Paris adalah uang rakyat. Rakyat berhak tahu apa output dan outcome dari perjalanan tersebut secara mendetail, bukan sekadar disuguhi foto-foto jabat tangan formal di Istana Élysée.

READ :  " Yang Penting Timah Setor ke PT Timah" Dalih Favorite Dibalik Bisnis Gelap Pertimahan di Babel

Membiarkan kunjungan luar negeri berjalan berulang kali tanpa adanya akuntabilitas publik yang transparan adalah bentuk pengabaian terhadap akal sehat bernegara. Di tengah situasi di mana ruang fiskal negara sedang megap-megap, pemborosan berkedok diplomasi ini terasa sangat melukai hati masyarakat bawah yang sedang berhemat setengah mati demi bertahan hidup.

Simpul Publik

Rakyat hari ini tidak butuh presiden yang mahir mengoleksi cap paspor internasional. Yang dibutuhkan adalah kehadiran nyata di dalam negeri untuk menyelesaikan karut-marut ekonomi domestik.

Sebelum Istana kembali memesan tiket penerbangan internasional berikutnya, ada baiknya mereka mendengarkan kritik dari Senayan, membuka laporan hasil kunjungan sebelumnya secara transparan ke publik, dan memoles kembali rasa empati terhadap kondisi riil bangsa. Berhentilah bersolek di panggung internasional jika dapur di dalam negeri sendiri masih berasap karena inflasi.(Tim Redaksi Bualan Republik Ilusi )

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@rcitizen-journallsts.com. atau kontak redaksi 0852 3897 3861 Terima kasih.
READ :  Ziana Zain: Ratu Pop Malaysia yang Abadi

Komentar