Penulis : Henddra Citizen
Bualan Senayan & Istana
Citizenesia – Bualan di Senayan dan Istana belakangan ini tampak begitu sibuk. Panggung-panggung politik dipenuhi oleh simulasi, uji coba, dan senyum semringah para pejabat yang membagikan kotak nasi. Di bawah sorot kamera, mereka sedang menjajakan mimpi besar: sebuah program populis skala nasional bernama Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diklaim akan mengantarkan generasi masa depan menuju gerbang emas.
Namun, jika kita sedikit menggeser pandangan dari panggung sandiwara tersebut ke layar monitor ekonomi, kita akan menemukan realitas yang sungguh kontradiktif. Di balik narasi gizi yang menggebu-gebu, pondasi ekonomi makro kita justru sedang menunjukkan sinyal lampu merah.
Angka yang Tidak Bisa Berbohong
Bualan terbesar yang sedang diproduksi oleh kolaborasi Senayan dan Istana saat ini adalah kesan bahwa “keuangan negara kita baik-baik saja.” Padahal, data berbicara sebaliknya. Nilai tukar Rupiah belakangan ini terus babak belur, terjerembap di kisaran Rp17.800 hingga mendekati psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan mata uang ini bukan sekadar angka mati di papan bursa. Bagi negara yang ruang fiskalnya sudah sesak oleh tumpukan utang, ambruknya Rupiah adalah alarm bahaya. Biaya untuk membayar bunga utang luar negeri otomatis membengkak, dan harga bahan baku impor (termasuk kedelai dan susu yang ironisnya dibutuhkan untuk program makan gratis itu) ikut terkerek naik.
Di sinilah letak ironi akal sehatnya: Bagaimana mungkin Istana begitu percaya diri memaksakan proyek mercusuar bernilai ratusan triliun Rupiah, sementara mesin utama stabilitas ekonomi kita sedang mengalami kebocoran serius?
Menggemboskan Sektor Krusial Demi Gengsi Politik
Kritik keras yang belakangan disuarakan oleh aliansi mahasiswa, termasuk BEM UGM, menemukan pembenaran logisnya di sini. Mereka mencium adanya bahaya konstitusional yang nyata. Demi mengejar “janji politik” yang telanjur diumbar, ada kekhawatiran besar bahwa anggaran untuk sektor-sektor krusial jangka panjang—salah satunya anggaran pendidikan—akan digembosi atau dikorbankan demi menambal kebutuhan program populis ini.
Secara logika warung kopi, kebijakan ini ibarat kepala keluarga yang nekat memaksakan diri membeli motor sport baru dengan sistem kredit yang mencekik, padahal di saat yang sama atap rumahnya sedang bocor parah dan uang SPK anak-anaknya belum dibayar. Tindakan ini mungkin menghasilkan tepuk tangan dan pujian dari tetangga di hari pertama, namun menyisakan kecemasan mendalam di hari-hari berikutnya.
Menabrak Asas Meaningful Participation dan Risiko Korupsi
Sebagai bagian dari jurnalisme warga yang mengawal demokrasi, kita juga harus mempertanyakan aspek keterbukaan dalam perumusan kebijakan ini. Sebuah kebijakan berskala masif yang menggunakan uang rakyat idealnya harus melewati proses meaningful participation—di mana suara guru, pembuat kebijakan pendidikan, pakar ekonomi, hingga masyarakat kecil didengar secara bermakna, bukan sekadar formalitas ketuk palu di Senayan. Ketika kebijakan dipaksakan berjalan secara top-down, risiko salah sasaran dan pemborosan anggaran menjadi sangat tinggi.
Lebih jauh lagi, proyek dengan perputaran uang raksasa dan rantai distribusi yang panjang dari pusat ke daerah seperti ini sangat rawan terhadap celah akuntabilitas. Tanpa sistem pengawasan yang ketat dan transparan, program ini dikhawatirkan bukan menjadi gizi bagi anak-anak bangsa, melainkan menjadi “gizi baru” bagi para makelar proyek dan oknum-oknum yang gemar mengail keuntungan di tengah situasi krisis.
Kesimpulan Bualan Pekan Ini
Rakyat hari ini tidak butuh ilusi kemewahan sesaat yang dibungkus dengan janji-janji manis dari podium Senayan maupun Istana. Yang dibutuhkan oleh masyarakat, konsumen, hingga para debitur kecil di akar rumput adalah stabilitas harga bahan pokok, kepastian lapangan kerja, dan penyelamatan daya beli yang kian tergerus inflasi.
Sebelum para elite di Senayan dan Istana sibuk mengatur isi piring makan siang rakyat, ada baiknya mereka fokus menyelamatkan dulu isi dompet bangsa ini dari ancaman kerapuhan ekonomi. Menyuapi rakyat dengan janji manis di atas piring yang rapuh bukanlah sebuah solusi, melainkan sebuah bualan politik yang mahal harganya. ( Henddra Citizen )
CITIZEN-JOURNALISTS.COM - MENJANGKAU SUARA MARGINAL









Komentar