[REPUBLIK BUALAN] : Makan Siang Gratis vs. Rupiah Sekarat: Antara Gizi dan Gengsi

banner 468x60

Penulis : Henddra Citizen 

[REPUBLIK BUALAN]

Menu Hari Ini:

Makan Siang Gratis di Atas Rupiah yang Lagi Kritis

REPUBLIK BUALAN – Ada pemandangan yang menggelitik isi kepala kita akhir-akhir ini. Di satu sisi, layar kaca kita dipenuhi foto-foto pejabat yang tersenyum lebar sambil membagikan kotak nasi instan dalam proyek uji coba makan siang gratis. Di sisi lain, layar ponsel kita menampilkan grafik merah membara: Rupiah sedang keok dihantam dolar AS, terjerembap di angka Rp17.870-an, dan bersiap mengetuk pintu Rp18.000.

Dua realitas ini seperti bumi dan langit, padahal lahir dari rahim anggaran yang sama.

Narasi Gizi yang Menabrak Sisi Logika

Kita tentu sepakat bahwa anak-anak bangsa butuh gizi. Tetapi yang membuat akal sehat kita meronta adalah inkonsistensi logikanya. Bagaimana mungkin pemerintah begitu percaya diri membiayai program mercusuar bernilai ratusan triliun Rupiah, sementara mesin utama perekonomian kita—yaitu stabilitas mata uang—sedang bocor?

Pelemahan rupiah bukan sekadar angka statistik untuk konsumsi para pialang saham di Jakarta. Bagi emak-emak di daerah, rupiah yang sekarat itu berwujud nyata: harga kedelai impor naik (membuat tempe makin tipis), harga susu formula merangkak naik, dan biaya bahan pokok ikut terkerek.

READ :  Ketika " Study Tour " Jadi Hobby Baru Istana

Lalu di mana bualannya? Bualannya adalah ketika pemerintah meyakinkan publik bahwa program makan gratis ini adalah kunci kesejahteraan, sementara di saat yang sama, kebijakan fiskal kita yang ugal-ugalan justru membuat daya beli masyarakat secara mandiri makin lumpuh akibat inflasi. Kita seperti sedang diberi makan gratis siang hari, tapi dompet kita dicopet pelan-pelan lewat kenaikan harga barang dan bunga cicilan di malam hari.

Menukar Masa Depan dengan Menu Populis

Seperti yang sempat disuarakan dengan lantang oleh Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, ada bahaya konstitusional di sini. Demi mengejar “janji politik” makan gratis, ada anggaran sektor krusial lain yang berisiko dikorbankan atau digembosi—salah satunya anggaran pendidikan.

READ :  REPUBLIK BUALAN ; Berlayar ke Pulau Impian dengan Kapal yang Bocor

Secara logika ekonomi warung kopi: Kalau uang belanja di rumah tangga sedang menipis karena bayar utang (baca: Rupiah melemah dan beban utang negara naik), logikanya kita harus berhemat dan memprioritaskan yang paling pokok. Bukannya malah menambah menu pesta yang dipaksakan.

Kesimpulan Bualan Hari Ini

Memberi makan gratis di tengah kondisi rupiah yang sedang sekarat itu ibarat sebuah keluarga yang nekat membeli motor sport baru dengan cara berutang, padahal atap rumahnya sedang bocor dan beras di dapur sudah habis. Kelihatannya gagah dan penuh gengsi di depan tetangga, tapi di dalam rumah, semua orang sedang menahan napas cemas menunggu hari esok.

Rakyat tidak butuh ilusi kemewahan sesaat. Yang dibutuhkan pembaca, konsumen, dan debitur hari ini adalah stabilitas harga, lapangan kerja yang aman, dan mata uang yang dihargai. Sebelum sibuk memikirkan isi piring makan siang rakyat, ada baiknya penguasa menyelamatkan dulu isi dompet bangsa ini dari kebangkrutan ekonomi.( Henddra Citizen )

READ :  Ketika " Study Tour " Jadi Hobby Baru Istana
Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@rcitizen-journallsts.com. atau kontak redaksi 0852 3897 3861 Terima kasih.

Komentar