Di Balik Gemerlap Timah: Krisis Air Bersih dan “Blank Spot” Hantui Warga Dua Desa di Bangka Barat

banner 468x60

PARITTIGA, BANGKA BARAT – Di tengah sorotan nasional terhadap komoditas timah di Kepulauan Bangka Belitung, sebuah realitas pahit serta memprihatinkan luput dari perhatian publik. Warga di sejumlah wilayah, khususnya di Desa Rambat (Kecamatan Simpang Teritip) dan Desa Telak (Kecamatan Parittiga), masih harus berjuang melawan keterisolasian digital serta krisis air bersih yang menahun.

Dua desa ini menjadi potret nyata ketimpangan infrastruktur di daerah penyangga tambang terbesar di Wilayah Bangka Belitung. Meski berada di daratan utama Pulau Bangka, akses komunikasi dan pemenuhan kebutuhan dasar air minum masih menjadi barang mewah bagi warga setempat.

Terisolasi di Era Digital

Desa Telak di Kecamatan Parittiga menjadi salah satu titik yang terdampak parah oleh lemahnya sinyal telekomunikasi atau blank spot. Kondisi geografis yang jauh dari jalur ekonomi utama membuat pembangunan menara BTS (Base Transceiver Station) seolah berjalan di tempat.

“Akses digital di sini sangat sulit. Untuk urusan administrasi desa atau anak sekolah yang butuh internet, sinyal sering hilang-timbul,” ungkap salah satu warga melalui laporan perkembangan daerah. Hal serupa terjadi di Desa Rambat, di mana warga harus mencari titik-titik tinggi tertentu hanya untuk mendapatkan koneksi yang stabil.

READ :  Doorrr..! Akibat Senggolan Dugem, Oknum TNI Penembak Pratu Ferischal di Cafe Panhead Palembang Terancam Dipecat!

Ancaman Kekeringan di “Negeri Seribu Kolong”

Ironisnya, Bangka Belitung yang dikenal memiliki ribuan kolong atau lubang bekas tambang berisi air menyerupai danau justru mengalami krisis air bersih saat musim kemarau tiba. Data menunjukkan bahwa kualitas air di lubang-lubang tersebut sering kali tidak layak konsumsi karena tingkat keasaman (pH) yang tinggi dan kandungan logam berat.

Di Desa Telak dan Desa Rambat, degradasi lahan akibat aktivitas tambang di masa lalu telah merusak siklus hidrologi alami. Akibatnya, sumur-sumur warga mengering lebih cepat saat curah hujan menurun.

“Kami sangat bergantung pada bantuan air bersih dari BPBD atau mobil tangki saat kemarau. Air tanah di sini sudah sulit diandalkan karena kondisi lahan yang sudah rusak,” tambah laporan tersebut.

READ :  Hak Cipta Jurnalistik: Pilar Perlindungan atau Belenggu bagi Literasi Publik?

Perlunya Perhatian Khusus

Isu blank spot dan krisis air bersih ini bagaikan api dalam sekam. Jika terus dibiarkan tanpa solusi infrastruktur yang permanen, ketimpangan antara daerah pusat kota dan pelosok desa akan semakin lebar.

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pusat tidak hanya fokus pada tata kelola komoditas tambang, tetapi juga mempercepat distribusi keadilan sosial melalui pembangunan jaringan internet desa dan penyediaan instalasi pengolahan air bersih yang memadai.

Hingga berita ini diturunkan, warga di pelosok Bangka Barat masih menanti langkah nyata agar desa mereka tidak lagi hanya menjadi penonton di tengah hiruk-pikuk industri pertambangan yang mengelilingi mereka. (*)

( Penulis Henddra Widjaja : Referensi dari berbagai sumber)

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@rcitizen-journallsts.com. atau kontak redaksi 0852 3897 3861 Terima kasih.
READ :  Gubernur Aceh Kunjungi Korban Pengeroyokan di Polda Metro Jaya: Kapolri Harus Memberi Atensi Khusus

Komentar