Nasip Kebanggan Masyarakat Belinyu Diujung Tanduk
CJ Online, Belinyu, Bangka – Keindahan pesisir Teluk Bakau Laut Penyusuk yang menjadi kebanggaan warga masyarakat Belinyu, Bangka, kini berada di ujung tanduk. Aktivitas penambangan menggunakan Ponton Isap Produksi (PIP) dilaporkan kian masif menjarah kawasan Kelurahan Romodong, Kecamatan Belinyu. Ironisnya, operasi pasir timah ini diduga kuat dilakukan di wilayah larangan aktivitas penambangan dan masuk masuk pada zona nelayan.
Pantauan tim Investigasi di lapangan pada Rabu ( 6/5/2026 ) menunjukkan barisan unit PIP yang beroperasi tanpa sekat dan tak jauh dari bibir pantai. Kondisi ini memicu kegerahan publik. Muncul tudingan miring bahwa aparat penegak hukum (APH) setempat tutup mata dan melakukan pembiaran, penjarahan di wilayah yang seharusnya dilestarikan justru diobrak obrik oleh para penambang liar tanpa hambatan.
Nama ASG Diduga Aktor Dibalik Penjarahan Timah di Wilayah Tersebut Mencuat
Informasi yang berhasil dihimpun oleh tim Investigasi lapangan mengarah kepada salah satu nama yakni ASG. Sumber menyebutkan jika ASG yang mengkoordinir kegiatan tambang di perairan laut Penyusuk, yang didukung dan ditengarai oleh AKB kolektor besar yang sangat kesohor namanya.
“ASG aktornya Bang di Laut Penyusuk, timahnya disetor ke AKB kolektor di Sungailiat,” sebut DI salah satu tokoh pemuda Belinyu.
Kedua oknum warga ini ASG dan AKB disebut-sebut memiliki peran krusial dalam mengendalikan unit PIP di kawasan sensitif itu. Meski nama-nama tersebut telah menjadi buah bibir, kepastian keterlibatan mereka masih menunggu proses konfirmasi dan validasi lebih lanjut.
Ancaman Ekologi dan Wisata
Dampak dari pembiaran ini bukan sekadar urusan administrasi. Teluk Bakau yang selama ini menjadi permata wisata di Belinyu kini terancam kehilangan pesonanya. Ekosistem pesisir yang rapuh dipaksa menanggung beban kerusakan akibat operasional mesin-mesin ponton.
Masyarakat Tuntut Nyali Aparat
Keresahan warga Belinyu kini memuncak. Melalui tokoh-tokoh masyarakat, mereka mendesak Polres Bangka, Ditpolairud Polda Kepulauan Bangka Belitung, hingga Gakkum LHK untuk segera bertindak.
“Ini bukan sekadar mencari nafkah, ini perusakan destinasi wisata kami. Jika terus dibiarkan, masa depan lingkungan kami yang akan menjadi korbannya,” tegas salah satu warga setempat penuh khawatir.
Hingga berita ini ini ditayang langkah dan upaya kepada pihak – pihak terkait termasuk Aparat Kepolisian setempat masih terus dilakukan.
( Tim Citizen )
CITIZEN-JOURNALISTS.COM - MENJANGKAU SUARA MARGINAL
















Komentar